Skip to main content

Journey to Dieng part 3 : Sunday, October 24th, 2010

Chasing Sunrise and then Have Not Money

Selamat pagi! Kami bangun jam 4 pagi, untuk mengejar sunrise di gunung Sikunir.
Busana pagi itu terlihat gerah jika dipakai saat menyeberangi jalan (maaf ngga nyambung, efek makan siang dari Mega Kuningan ke Ambassador)

Dinar : kaos lengan panjang, jaket, celana kargo, kaos kaki, sandal gunung, topi kupluk, syal
Peti : kaos lengan panjang, celana jeans, kupluk, jaket  dia doang yang tahan dingin, ingat itu saudara-saudara. Karena dia warga Gunung Kidul sejati.
gw : kaos pendek, cardigan ¾, jaket, pashmina, jeans didobel celana training plus bawa sarung buat jaga2 klo kedinginan di atas ntar. Heboh kan? Pak Guide nyaranin bawa selimut di penginapan -_-! Berat pak,, buset

Dari penginapan menuju tracking Gunung Sikunir kira-kira ditempuh dalam waktu kurang dari 1 jam dengan mobil. Sampai bawah Gunung Sikunir kami tracking sedikit kira-kira 15 menit untuk sampai keatas Gunung.

Tada! Kami sampai diatas Gunung Sikunir, ketinggiannya sekitar 2450 dpl. Suhu diatas gunung kira-kira 5 derajat. Tapi ngga gitu berasa dingin karena sebelumnya kita uda tracking jadi berasanya seger gitu *halah

Foto-foto bentar,,, ngajak ngobrol orang bule (Dinar sih yang ngajak ngobrol, gw cengar cengir doang). Sementara Dinar kekeh nanya pake bahasa inggris, keluarga bule itu kekeh njawab pake bahasa Indonesia :D








Tibalah semburat orange,, yes matahari sebentar lagi terbit, semua sudah siap di posisi, kamera di tangan, pose sedikit bareng matahari yang mau nongol,,, dann,,, turunlah kabut argh! Kabut nutupin semua pemandangan sampai jauh. Sedihhhhh gabisa liat matahari terbit nya.

Setelah tidak puas menikmati pemandangan diatas gunung, foto-foto kedinginan, lirik sana sini berharap ada cowo ganteng (tapi ternyata ngga ada), kami kembali ke penginapan untuk mandi (pas chasing sunrise tadi belum mandi... ya iyalah masih subuh banget)

Ayo jangan buang waktu. Mandi dan sarapan sudah. Sekarang saatnya kita melihat-lihat objek wisata lain. Hehehe
Kami diajak oleh bapak guide menuju telaga warna. Karena baru hujan, jadi kami tidak tracking naik keatas bukit untuk melihat telaga warna dari atas. Kami langsung masuk ke kawasan wisata nya aja. Foto2 bentar. Lumayan banyak juga orang yang yang mengunjungi tempat ini.







Ada tempat buat semedi juga,,, konon katanya Mayangsari pernah bertapa dan mandi di sini. Hihihihi. Ketika kami melongok dari luar kedalam emang ada tempat mandi nya gitu. Yaudahlah biarin aja klo Mayangsari atau Mayangsiapapun yang mau mandi disitu yang jelas pasti dingin aja.

Dari telaga warna, mobil kami menuju Kawah Sikidang. Favorit gw banget nih buat foto-foto. Asli keren. Tanahnya didominasi warna putih karena banyak bebatuan belerang, dikelilingi pohon-pohon berwarna hijau dengan kayu warna coklat. Sementara langitnya biru. Foto pake kamera digital biasa aja hasilnya keren gimana pake SLR
Sikidang diambil dari kata Kijang.
Seperti sifat Kijang yang selalu melompat-lompat, kawah ini munculnya berpindah-pindah atau seperti melompat layaknya kijang.







Setelah puas mengambil foto di Kawah Sikidang, kami mampir sebentar ke Candi Bima. Lokasi Candi Bima ini agak “terkucilkan”. Tidak seperti kawasan Candi Arjuna yang luas, candi Bima lebih mirip taman. Dikelilingi bunga-bunga bermacam warnanya. Karena cakep jadinya kami poto-poto







Dari Candi Bima, menuju Museum Dieng Kaliasa. Pemandangan dari depan Museum ini bagus deh. Ada taman nya juga, segerrr banget. Beda sama di Jakarta (iyalah ya)
Foto-foto lagi





Dari Museum Dieng, naik lagi ke Dieng Plateu. Ini adalah teater yang memainkan film documenter mengenai Dieng. Ada kejadian bencana alam meletusnya kawah Nila yang tadi uda gw jelaskan diatas. Dan untuk perhatiannya, disini banyak bertengger abang-abang penjual makanan, seperti somay, batagor, kentang goring dengan berbagai macam bumbu. Jadi kami jajaaan tiada henti disini, sambil menikmati dinginnya udara Dieng.. enak banget !!!







Setelah cukup lama menikmati hujan diatas Dieng Plateu (sumpah dingin banget), kami kembali ke penginapan. Mandi, pake baju cakep, bedakan kemudian mari kita cari makan! Loh tapi begitu dicek,,, uang yang tersisa tinggal recehan! Sekitar 50.000. ada fotonya klo ga percaya




Ada tak ada uang yang penting hepi. Bermodalkan uang recehan secukupnya, kami pergi mencari makan malam kewarung nasi disebelah penginapan. Dengan menu makan yang sama selama 2 hari : nasi goreng / mi rebus dan teh/jahe hangat. Mantap,,, Alhamdulillah kenyang ^^
Kelar makan, kami kembali ke penginapan. dijalan mampir dulu beli cemilan. Malam itu kabut turun banyak sekali. Sampe dingin banget. Sempet poto sebentar walopun bibir uda beku, tetap berusaha pose





Balik ke penginapan, kami packing karena besok pagi udah harus turun ke Wonosobo menuju Jogja. Selesai packing mari kita bobo ^^

Comments

Popular posts from this blog

How to : Mengaktifkan Visa Waiver Jepang

Happy New Year 2020! Jadi cerita aku hari ini adalah flashback pengalaman mengaktifkan visa waiver Jepang dengan e-paspor. Aku submit visa waiver ini Selasa, 17 Desember 2019, tepatnya waktu ujan deres. Dari Pasaraya abis dateng ke kajian Aa Gym, terus naik TJ ke depan embassy Jepang di Jl MH Thamrin, sampe halte busway sana eh ujan petir gledek. Karena takut keburu tutup, jadi terpaksa hujan kami terobos. Jalan berdua Wewe pake ojek payung sampe di depan Embassy antri kira-kira 1 menit buat masuk gerbang - masuk gerbang - tuker ID - masuk ke ruangan - ambil nomor antrian - isi form Isi formnya gak sebanyak isian form visa biasa, aku lupa gak fotoin jadi agak lupa isinya, tapi kalo ga salah cuma identitas biasa kaya nama, no hp, alamat dll, trus tunggu antrian dipanggil. Nunggu nggak berapa lama, trus kasih paspor + form yang tadi udah diisi, kemudian petugasnya kasih slip tanda terima buat besok ambil paspor. Wewe ngomel-ngomel mulu kesel aku. Kan hari itu gak bawa mobil k...

Sedikit Cerita tentang Konten Suara

Beberapa temen nanya "lo sekarang jadi freelance?" Gak tahu ini maksudnya freelance atau bukan pokoknya usaha sendiri masukin konten ke labels/CP. Salah satu telco punya servis VAS yg namanya Status RBT; kayak RBT tapi bukan lagu, melainkan suara macem: "Hai sayang, kalo kamu mau aku angkat telpon kamu, bilang sayang ke aku 3x yah" ato gini "Ugh sebel, kamu nelpon doang, bilang sayangnya kapan?" ... Yah, semacam itulah... :D Cara membuat : Cukup banyak membaca status receh di sosmed, modifikasi dikit supaya sesuai dengan status RBT, tambahin backsound + sounds effect seperti efek petir, suara telpon, anjing melolong atau doeng-doeng, tuing-tuing atau pret-pret. Karena dulu aku kerja di kantor yang menjadi partner salah satu telco tersebut, otomatis aku jadi punya kenalan di labels/CP, dan beberapa mau menampung konten buatanku. Sistem revenue nya ada 2; beli putus atau sharing revenue. Aku pilih yang sharing revenue. Tiap labels/CP jug...

Review Benang Lokal : Mimo UCR

Alhamdulilah hujan pertama menjelang akhir tahun 2019. Tadi sempet batin duh ini panas banget, kapan ya hujan pertamanya? Seperti jodoh kalo diharapkan tak datang, tak diharapkan tak  datang juga Kemarin gw maksi ke Blok M Plaza, trus naik ke Micky Mocko dan beli benang biru muda MIMO Panda harganya 30ribu. Benangnya asik, gak bulky dan gak kasar. Kemudiaaann, gw menemukan benang Mimo UCR, benang katun yang katanya biasa dipake buat bikin taplak meja. Benangnya tipis, bisa pakai hakken ukuran 1-3 mm, gw pake yg 3mm karena nerusin projectan sebelumnya yang pake Mimo Panda. Benang ini murah, satunya 8ribu. Warnanya netral, krem. Cocok buat base granny crochet. yang pink benang katun Mimo Panda, harganya 30ribu, lebih lembut daripada katun yg Mimo UCR Setelah dipake sekitar 1/4 gulungan, barukumenyadari kalo telunjuk kiri yang bertugas jadi katrol mulai mengalami tanda-tanda kelecetan ternyata bukan hanya mantan yang bisa menyakiti, tapi benangpun bisa gaes... Kar...