Skip to main content

Journey to Dieng part 1 : Friday, October 22th, 2010

This isn’t goodbye, but till we meet again.

Setelah lebih dari 4 tahun 7 bulan di Jatis, akhirnya gw lulus juga ^^
Sedih tapi demi masa depan! Sekali lagi demi masa depan! Leave all the comfort zone, all friends, all happiness. Mudah-mudahan ditempat baru akan dapat suasana menyenangkan seperti diJatis lagi.

Yak, sekilas mengenai kepergian gw dari Jatis, sekarang masuk ke inti cerita
Dengan manisnya TriMbaGetir membuat back up plan. Journey to Dieng. Bermodalkan keberanian, tekad bulat dan tas pinjaman *lebai
Jadi beginilah perjalanan kami :
Peserta : Icul, Dinar, Peti





Kira-kira jam 17.30 kami berangkat dari kantor ke pol-an travel. Maksud hati mau naik 612 dari depan kantor tapi krn maceeet banget akhirnya kita naik ojek.

-> 1 ojek Rp 10.000 / orang
Maka berangkatlah kami dari travel Tendean menuju Terminal Wonosobo

-> harga naik travel per orang Rp 160.000 / orang
Perjalanan ke Wonosobo memakan waktu kira-kira 12 jam. Jadi kami sudah banyak berdoa supaya jalanan tidak macet dan kaki Dinar ga kram (kakinya panjang, gabisa selonjoran. Ga kaya gw sama Peti yang minimalis)

Setelah beberapa jam perjalanan kami beristirahat disebuah restoran padang. Kami membersihkan diri. Cuci muka, sikat gigi, dan pipis. Lalu menghangatkan diri dengan memesan teh manis anget

Ini fotonya klo penasaran (masih seger mukanya)



Perjalanan dilanjutkan, melewati hutan belantara bersama truk-truk pembawa barang. Lagi enak-enak ngobrol, loh eh kok berenti lagi? Lama banget lagi,, ada sekitar ½ jam supirnya menghilang. Muka kami seperti anak hilang. Saking stresnya jadi foto2 ga jelas.







Supirnya uda ketemu! Jalan lagi yuk,,, eh ga lama berenti lagi -_-! Kali ini ada berhenti di AlfaMart yang 24 jam. Kami beli pop me kemudian minta air panas disana. Lumayan masnya baik, uda gitu dia piker gw Dinar dan Peti masih kuliah. Yah nice try lah mas,, ga liat nih keriput di sekitar bibir?

Ternyata eh ternyata perjalanan kami menuju Wonosobo itu MENEGANGKAN! Sepanjang perjalanan yang keliatan Cuma pohon, pasir ama truk! Udah gitu supirnya lupa klo dia lagi bawa orang, bukan pasir. Jadi nyetirnya membabi butaaa

Walaupun perjalanan horror dan membuat mabuk, tidak menyulutkan niatan kami untuk bersenda gurau. Singkat kata kami cape ngelawak jadi pingsan seketika dengan gaya yang menjijikan.

Comments

Popular posts from this blog

How to : Mengaktifkan Visa Waiver Jepang

Happy New Year 2020! Jadi cerita aku hari ini adalah flashback pengalaman mengaktifkan visa waiver Jepang dengan e-paspor. Aku submit visa waiver ini Selasa, 17 Desember 2019, tepatnya waktu ujan deres. Dari Pasaraya abis dateng ke kajian Aa Gym, terus naik TJ ke depan embassy Jepang di Jl MH Thamrin, sampe halte busway sana eh ujan petir gledek. Karena takut keburu tutup, jadi terpaksa hujan kami terobos. Jalan berdua Wewe pake ojek payung sampe di depan Embassy antri kira-kira 1 menit buat masuk gerbang - masuk gerbang - tuker ID - masuk ke ruangan - ambil nomor antrian - isi form Isi formnya gak sebanyak isian form visa biasa, aku lupa gak fotoin jadi agak lupa isinya, tapi kalo ga salah cuma identitas biasa kaya nama, no hp, alamat dll, trus tunggu antrian dipanggil. Nunggu nggak berapa lama, trus kasih paspor + form yang tadi udah diisi, kemudian petugasnya kasih slip tanda terima buat besok ambil paspor. Wewe ngomel-ngomel mulu kesel aku. Kan hari itu gak bawa mobil k...

Sedikit Cerita tentang Konten Suara

Beberapa temen nanya "lo sekarang jadi freelance?" Gak tahu ini maksudnya freelance atau bukan pokoknya usaha sendiri masukin konten ke labels/CP. Salah satu telco punya servis VAS yg namanya Status RBT; kayak RBT tapi bukan lagu, melainkan suara macem: "Hai sayang, kalo kamu mau aku angkat telpon kamu, bilang sayang ke aku 3x yah" ato gini "Ugh sebel, kamu nelpon doang, bilang sayangnya kapan?" ... Yah, semacam itulah... :D Cara membuat : Cukup banyak membaca status receh di sosmed, modifikasi dikit supaya sesuai dengan status RBT, tambahin backsound + sounds effect seperti efek petir, suara telpon, anjing melolong atau doeng-doeng, tuing-tuing atau pret-pret. Karena dulu aku kerja di kantor yang menjadi partner salah satu telco tersebut, otomatis aku jadi punya kenalan di labels/CP, dan beberapa mau menampung konten buatanku. Sistem revenue nya ada 2; beli putus atau sharing revenue. Aku pilih yang sharing revenue. Tiap labels/CP jug...

Review Benang Lokal : Mimo UCR

Alhamdulilah hujan pertama menjelang akhir tahun 2019. Tadi sempet batin duh ini panas banget, kapan ya hujan pertamanya? Seperti jodoh kalo diharapkan tak datang, tak diharapkan tak  datang juga Kemarin gw maksi ke Blok M Plaza, trus naik ke Micky Mocko dan beli benang biru muda MIMO Panda harganya 30ribu. Benangnya asik, gak bulky dan gak kasar. Kemudiaaann, gw menemukan benang Mimo UCR, benang katun yang katanya biasa dipake buat bikin taplak meja. Benangnya tipis, bisa pakai hakken ukuran 1-3 mm, gw pake yg 3mm karena nerusin projectan sebelumnya yang pake Mimo Panda. Benang ini murah, satunya 8ribu. Warnanya netral, krem. Cocok buat base granny crochet. yang pink benang katun Mimo Panda, harganya 30ribu, lebih lembut daripada katun yg Mimo UCR Setelah dipake sekitar 1/4 gulungan, barukumenyadari kalo telunjuk kiri yang bertugas jadi katrol mulai mengalami tanda-tanda kelecetan ternyata bukan hanya mantan yang bisa menyakiti, tapi benangpun bisa gaes... Kar...